Sedikit Kisah Indah Khadijah binti Khuwailid (KRIR : 1.2)

Tinggalkan komentar

Inilah Khadijah, semoga Allah senantiasa meridhoinya, pemilik hati yang suci dan jiwa yang penuh dengan rasa ridha. Kalau kita melihat lebih jauh ke dalam jiwanya, akan terpampang di hadapan kita berbagai kenangan tentangnya… Meski telah meraih kesuksesan yang luar biasa di dunia bisnis dengan izin Allah, sehingga perniagaannya di negeri Syam menyamai gabungan perniagaan para konglomerat Quraisy saat itu, Khadijah tetap merasa tidak tenang. Sebab dia selalu merasa membutuhkan sesuatu yang dapat menghidupkan hatinya, dan sesuatu itu adalah keimanan yang kemudian hari diperolehnya dari Allah melalui Rasulullah. Karena itulah, Khadijah harus mengalami beberapa kali pernikahan dalam rangka menemukan sebuah kehidupan rumah tangga yang berkualitas, yang penuh dengan pengorbanan, kasih sayang, dan saling melengkapi.

Ketika menikah dengan Abu Halah bin Zirarah at-Tamimy, Khadijah berusaha dengan segala yang dimilikinya untuk menjadikan suaminya sebagai pemimpin di sukunya.  Namun ajal begitu cepat menjemput sang suami sehingga pupuslah harapannya untuk itu. Dari Abu Halah, Khadijah memperoleh seorang putri yang diberi nama Hindun. Kemudian dia dinikahi oleh salah seorang bangsawan Quraisy yang bernama ‘Atiq bin ‘Abid bin Abdullah al-Makhzumi, namun pernikahan itu tidak bertahan lama. Sehingga Khadijah yang dikenal sebagai pemuka perempuan Quraisy kemudian sempat hidup sendirian tanpa didampingi seorang suami, padahal dia amat disukai oleh para pembesar Quraisy. Meski demikian, Khadijah merasakan dalam relung hatinya yang paling dalam bahwa takdir menyembunyikan sesuatu yang luar biasa yang akan membuatnya melupakan berbagai kesedihan di masa lali dan memberi kebahagiaan bagi jiwanya. [1]

————–footnote————–

1. Buku “Wanita Pilihan di Zaman Rasulullah” halaman 47

Mengenal Ibunda Kaum Mukminin, Khadijah binti Khuwailid (KRIR : 1.1)

1 Komentar

Dia adalah ummul mukminin (ibunya orang-orang beriman) dan perempuan yang paling mulia sepanjang masa. Julukannya Ummul Qasim, binti Khuwailid bin Asad bin Abul ‘Uzza bin Qushay bin Kilab al-Qurasyiyyah (wanita Quraisy) al-Asadiyah (wanita suku Asad). Ibunda bagi putra-putri Rasulullah dan sosok yang paling pertama mengimani dan membenarkan kenabiannya sebelum yang lain.

Keutamaannya tidak terhingga. Dia adalah sosok perempuan yang  begitu sempurna. Cerdas, terhormat, mulia, dan tercatat sebagai penghuni surga. Rasulullah senantiasa memujinya dan mengutamakannya di antara ummul mukminin yang lain. Beliau sangat mengagumi sosoknya. Hal ini terlihat dari ucapan Aisyah : Tidak ada yang aku cemburui dari perempuan seperti aku cemburu kepada Khadijah, karena Rasulullah begitu sering menyebut namanya. [1]

Di antara keutamaan Khadijah bagi Rasulullah adalah beliau shalallahu’alaihiwassalam belum pernah menikah sebelum menikah dengannya. Di samping itu Khadijahlah yang banyak memberi keturunan bagi Rasulullah. Beliau tidak pernah menikahi wanita lain selama Khadijah masih hidup, beliau juga tidak pernah mengambil budak hingga akhir hayatnya, beliau sangat kehilangan dengan kepergian Khadijah menghadap sang Khaliq, karena dia adalah pendamping terbaik yang pernah beliau miliki. Khadijah menyerahkan harta kekayaannya kepada beliau untuk kesuksesan dakwah yang beliau lakukan, sebaliknya beliau pun rela melakukan perjalanan yang cukup jauh untuk menjalankan perniagaan yang dimiliki oleh Khadijah.

Menurut Zubair bin Bakar, pada masa jahiliyah, Khadijah dijuluki oleh masyarakat dengan julukan “Si perempuan suci”. Ibunya bernama Fatimah binti Za’idah al-‘Amiriyah.

Khadijah sebelumnya telah menikah dengan Abu Halah bin Zirarah at-Tamimy, lalu menikah lagi dengan ‘Atiq bin ‘Abid bin Abdullah bin Umar bin Makhzum, baru kemudian menikah dengan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam. Beliau menjalani bahtera rumah tangga dengannya selama 25 tahun. Usia beliau terpaut 15 tahun lebih muda dibanding Khadijah. [2]

Khadijah dilahirkan di Ummul Qura kira-kira 15 tahun sebelum Tahun Gajah.

——————–footnote——–

1. Hadits shahih diriwayatkan oleh al-Bukhari (3817) di al-Manaaqib, Bab Tazwij an-Nabiy Shalallahu ‘alaihi wassalam Khadijah wa Fadhluha radhiyallahu ‘anha. Diriwayatkan juga oleh Muslim (2435) di Fadhaa’il as-Shahaabah, bab Min Fadhaa’il Khadiijah Ummu al-Mu’minin radhiyallahu ‘anha.

2.Siyar a’lam Nubala, al-Imam adz-dzahabi, juz II, halaman 109-111 dengan sedikit penyesuaian redaksi.

Pemeluk Bintang : Khadijah binti Khuwailid (KRIR : 1.Opening)

Tinggalkan komentar

Bintang yang paling pertama di antara sekelompok bintang yang menghiasi kehidupan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam adalah sosok perempuan yang merupakan simbol kesucian, kehormatan, dan ketakwaan. Dia adalah bunga yang wanginya tersebar luas ke seantero dunia, yang diliputi oleh keimanan dan pengorbanan. Lagi

Bantahan terhadap Pengingkar Sunnah oleh Imam asy-Syafi’i (AIS : 1.2)

Tinggalkan komentar

bismillaahirrahmaanirrahiim. Assalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Artikel ini insya Allah akan menjadi sebuah artikel yang berisi sebuah dialog antara Imam asy-Syafi’i rahimullah dan seorang pengingkar sunnah (ingkarussunnah) yang saya dapatkan dari kitab “Manhaj ‘Aqidah Imam asy-Syafi’i” yang diterbitkan oleh Pustaka Imam asy-Syafi’i pada halaman 123-128, yang diambil dari kitab Jimaa’ul-‘Ilmi (halaman 21-23). berikut ini dialog antara beliau rahimullah dan seorang pengingkar sunnah : Lagi

Posisi as-Sunnah menurut Imam asy-Syafi’i (AIS : 1.1)

Tinggalkan komentar

Bismillaahirrahmaanirrahiim. Assalaamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh.

Ya, insya Allah poin ini adalah poin penjelas AIS : 1.0 yang poin ini akan menerangkan mengenai kedudukan as-Sunnah menurut Imam asy-Syafi’i rahimullahu ta’ala. Ya, Imam Syafi’i melihat bahwa dalam syari’at, kedudukan as-Sunnah seperti kedudukan al-Qur’an. Apa apa yang ditentukan as-Sunnah seperti apa yang ditetapkan al-Qur’an. Dan semua hal yang diharamkan as-Sunnah sama dengan apa yang diharamkan dalam al-Qur’an. Sebabnya adalah karena keduanya berasal dari Allah. Wamaa yanthiqu ‘anil hawaa…. Lagi

Ragam Dasar Imam Syafi’i dalam Menetapkan ‘Aqidah (AIS : 1.0)

Tinggalkan komentar

Bismillahirrahmaanirrahiim. Assalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Prinsip Ahlussunnah dalam mengambil/mempelajari ‘Aqidah (Prinsip Pokok) Islam adalah mengambil lahiriah al-Qur’an dan Hadits -yang shahih dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam-.  sebagaimana firman Allah dalam beberapa ayat di al-Qur’an, yaitu al-Ahzab ayat 36, an-Nisaa’ ayat 65, dan an-Nisaa’ ayat 59.

Imam Atha’ rahimullah ketika menafsirkan an-Nisaa’ ayat 59 berkata : “Kembali kepada Allah maksudnya adalah kembali kepada kitab Allah ; kembali kepada Rasul maksudnya adalah kembali kepada sunnah Rasulullah.” [1]

Hal inilah yang dilakukan oleh para ulama ahlussunnah wal jama’ah, mereka beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta apa apa yang datang dari keduanya. Mereka hanya membicarakan mengenai hal hal yang mereka mampu dan diperbolehkan oleh Allah untuk membahasnya. Dan mereka diam terhadap apa yang mereka tidak mampu dan tidak diperbolehkan Allah untuk dibahas dan dibicarakan.

maka dari itu, tidak ada perselisihan dan perdebatan antara para sahabat Nabi dalam masalah ‘aqidah; dan tidak terdengar dan tidak sampai kabar ke kita bahwa ada keraguan mereka dalam masalah ini. Hal ini terwujud karena berpegang teguhnya mereka kepada al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya. famanittaba’u hudaaya falaa yadhillu wa laa yasyqaa… Lagi

Prinsip Pokok Beragama Imam Asy-Syafi’i

Tinggalkan komentar

Bismillahirrahmanirrahim. assalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.
Imam Asy-Syafi’i, namanya begitu tersebar luas di kaum muslimin di seluruh dunia, khususnya untuk kaum muslimin di negara Indonesia ini, banyak sekali yang mengaku kalau dia bermadzhab syafi’i, dan juga banyak sekali yang berpendapat dengan pendapat ulama syafi’iyyah, maupun “ulama” syafi’iyyah. -meski terkadang pendapat itu menyelisihi al-Qur’an dan sunnah Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassallam, pendapat iyu masih mereka pegang, dan ini adalah salah satu dari ribuan kenyataan pahit yang melanda kaum muslimin-

Namanya adalah Muhammad bin Idris bin al-‘Abbas bin ‘Utsman bin Syafi’ bin as-Saib bin ‘Ubaid bin ‘Abdu Yazid bin Hasyim bin al-Muththalib bin ‘Abdi Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luay bin Ghalib, Abu ‘Abdillah al-Qurasyi asy-Syafi’i al-Makki, keluarga dekat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassallam dan putra pamannya. [1]

Al-Muththalib adalah saudara Hasyim, ayah dari ‘Abdul Muththalib. Kakek Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam dan kakek Imam asy-Syafi’i berkumpul (bertemu nasabnya) pada ‘Abdi Manaf bin Qushay, kakek Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam yang ketiga. [2]

Imam an-Nawawi rahimullah berkata: “Imam asy-Syafi’i rahimullah adalah Qurasyi (berasal dari suku Quraisy) dan Muththalibi (keturunan Muththalib) berdasarkan ijma’ para ahli riwayat dari semua golongan, sementara ibunya berasal dari suku Azdiyah.” [3]

itu adalah sedikit informasi mengenai Imam asy-Syafi’i yang dipuji oleh Imam Ahmad rahimullah dalam ucapannya : “Pada abad (seratus tahun) pertama adalah ‘Umar bin Abdul ‘Aziz rahimullah, sementara pada abad kedua yang menjadi mujaddid (pembaharu) adalah Imam asy-Syafi’i rahimullah.”

dan beliau rahimullah mengatakan : “Sungguh, semenjak 40 tahun lalu aku selalu mendo’akan Imam asy-Syafi’i dalam shalatku.” [4]

begitu agung kedudukan Imam asy-Syafi’i rahimullah di kalangan kaum muslimin, bahkan di kalangan para ‘alim ‘ulama, tapi sayang seribu sayang, banyak sekali kaum muslimin yang mengenal pendapat beliau dalam masalah fikih di kitab kitab tulisannya seperti al-Umm dan ar-Risaalatul Jadiidah. Tapi tidak mempelajari prinsip pokok (baca : ‘Aqidah dan metode beragama/manhaj) beliau dalam beragama.

“Aku sudah mempelajari kok ‘aqidah dan manhaj imam syafi’i,” kata seorang muslim. Tapi sayangnya dia merujuk ke sebuah kitab berjudul al-Fiqhul Akbar yang merupakan sebuah kitab yang dikatakan ditulis oleh Imam Syafi’i, tetapi pada kenyataannya Imam asy-Syafi’i tidak pernah menulis kitab ini. -dan isi kitab palsu ini adalah prinsip-prinsip yang menyelisihi prinsip imam asy-Syafi’i-

nah, saya disini insya Allah akan menulis mengenai prinsip pokok Imam asy-Syafi’i rahimullah dalam beragama, dan saya akan tulis per poin sesuai yang saya mampu, insya Allah. Dan semoga kebaikan ini tersebar. aamiin.

————————–footnote——————

1. Terjemahan kitab : [ Manhaj al-Imam asy-Syafi’i Rahimahullah Ta’ala fii Itsbaat al-‘Aqidah, DR. Muhammad bin A.W. Al-‘Aqil, Maktabah Adhwa as-Salaf Riyadh Saudi Arabia Cet. I, Th. 1419 H / 1998 M ] oleh Pustaka Imam asy-Syafi’i dengan judul “Manhaj ‘Aqidah Imam asy-Syafi’i rahimullah” cetakan kelima, halaman 15.

2. idem.

3. Tahdziibul Asmaa’ wal Lughaat oleh an-Nawawi (I/44), bagian pertama.

4. Manaaqibusy Syafi’i oleh Imam al-Baihaqi (I/55) dan kitab al-Bidaayah wan Nihaayah oleh al-Hafizh Ibnu Katsir (X/253).

Older Entries